Pengalaman
Religius di Kawah Putih
Pengalaman
religius ini terjadi sekitar 2 tahun yang lalu tepatnya pada saat saya berada
pada masa SMA, tepanya pada kelas tiga. Rencana liburan keluar kota sudah lama
kami bicarakan bahkan pada waktu kelas dua kami hampir melaksanakan liburan
keluar namun belum terlaksana. Pada akhirnya keinginan kami semua tercapai,
saya beserta teman saya dapat melaksanakan rencana kami yaitu pergi ke Bandung
dengan mengendarai sepeda motor. Kegiatan tersebut bertepatan dengan hari libur
setelah di laksanakanya UN di SMA kami. kami memilih hari rabu menjadi hari
pemberangkatan karena di dalam benak kami hari kamis dan jumat merupakan hari
yang sakral unutk berpergian makanya kami melilih hari rabu untuk berangkat
menuju Bandung. Persiapan dan kesiapan kami siapakan untu memenuhi
barang-barang yang perlu kami bawa karena rencana kami pada saat itu berada
selama 3 hari, tentu saja memerlukan persiapan yang cukup, mulai dari pakaian,
alat mandi, kondisi motor karena medan yang akan lewati cukup sulit, kami
sangat memperhatikan kondisi motor, dan tentu saja bekal uang yang cukup selama
perjalan kami sudah siapkan semua. Dan tak lupa fisik dan mental sudah kami
sipakan jauh sebelum hari keberangkatan, keadaan fisik yang prima sangat dibutuhkan
mengingat jarak Bandung-Jakarta yang jauh ditambah lagi kami menggunakan motor
pasti akan menempuh waktu yang lama, kami memperkirakan 5-6 jam menuju Bandung,
keadaan mental juga kami perhatikan karena disana kami akan banyak melewati
tempat yang asing untu kami. walaupun diantara kami belum ada yang pernah ke
Bandung, kami sedikit bermodalkan nekat
dengan pengetahuan tentang Bandung, terutama jalan-jalan di Bandung. Bandung
memang menjadi tempat tujuan yang rumit bagi wisatawan dengan pengetahuan awam,
karena hampir semua jalan-jalan di Bandung merupakan jalan searah dengan
rambu-rambu minim. Itu semua akan kami jalani dengan perasaan suka cita karena kemauan dan tekad yang sudah di
siapkan dari jauh-jauh hari sebelum hari keberangkatan. Bandung menjadi tempat
tujuan kami untuk berlibur sekaligus melepas rasa penat setelah 6 bulam kami di
priotaskan untuk persiapan menghadapi Ujian Nasional karena Bandung merupakan
kota yang menarik dengan tempat wisata yang cukup banyak.
Setibanya
hari H keberangkatan, kami berkumpul di rumah Hilman. Kami pergi dengan 7
orang, mereka adalah Zaydi, Bhery, Hilman, Yudha, Hendra, Fradit serta saya.
Menggunakan 4 kendaraan motor. Kami brifing sebelum keberangakatan menyiapkan
bekal info mengenai jalan menuju bandung. Hari pertama, pukul 10 pagi kami
berangkat. Kami menuju bandung melalui jalan via puncak, kami memilih jalan
tersebut karena pemandangan suasa puncak yang menjadi pemikat kami untuk
memilih jalan via puncak. Adzan zuhur berkumandang mengiringi kedatangan kami
di puncak, kami pun solat dan istirahat di masjid At-ta’aun. Setelah istirahat
kami melanjutkan perjalanan. Selama perjalan kami sering unutk menepi di bahu
jalan unutk beristirahat karena fisik kami yang tidak biasa untuk berpergian
jauh sampe akhirnya pukul 3 sore kami tiba di kota bandung, tepatnya di Cimahi.
Ashar kami solat di masjid di alun alun di daerah Cimahi semabari melepas
kepenatan selama perjalanan yang cukup lama tadi. Kami melanjutkan perjalan
menuju rumah salah satu Om nya Bheri yang berada di kawasan Cimahi. Malam hari
pertama, kami habiskan di rumah saja karena rasa letih yang menyerang kami
selama perjalan yang cukup melelahkan.
Keesokan
harinya tepatnya hari kedua kami berada di Bandung, kami berencana untuk
berwisata ke Kawah Putih yang berada di Ciwedey, Bandung. Mengingat tempat
penginapan dan tempat wisata tersebut tidak terlalu jauh, cukup 1-1,5 jam kami
bisa sampai kesana. Dalam perjalan menuju Kawah Putih. Pukul 11 pagi kami
berangkat, di dalam perjalanan saya mendapati kejadian religius, pada saat
perjalan pagi itu cuaca disekitaran Bandung sangat cerah dan terang benderang.
Perjalanan yang hanya memakan waktu satu jam itulah yang membuat kami merasa
santai pada waktu perjalan, namun sampai azhan zuhur, kami belum sampai di tempat
tujuan. Setelah mendengar azhan tersirat dalam pikiran saya bahwa saya dan
teman-teman akan solat setelah kami sampai disana, namun tidak sampai lima
menit cuaca mulai mendung seketika dan benar cuaca mendung mengundang datangya
hujan. Hujan yang sangat lebat seketika di iringi angin yang kencang, kami
terkejut dan segera menepi mencari tempat untuk berteduh dengan keadaan yang
sedikit basah, dengan perasaan kecewa kami menunggu hujan reda untuk kembali
melanjutkan perjalan. Kebetulan tempat berteduh kami tidak jauh dari masjid,
kamu segera menuju masjid untuk solat. Setelah solat hujan tak kunjung reda,
bahkan hujan semakin lebat dan suara petir yang kencang. Pikir saya pada saat
itu , kejadian tersebut sering terjadi ketika hujan lebat turun di Jakarta, namun
dibalik itu saya berpikir ada apa dengan hujan yang datangnya secara tiba-tiba
hujan yang lebat serta lama apakah ada peringatan atau pertanda untuk saya,
namun saya berpikir positif
menanggapinya kejadia tersebut. Akhirnya hujan pun reda setelah 1 jam
turun dengan lebatnya, dan kami melanjutkan perjalan. Dan betapa terkejutnya
kami dengan apa yang terjadi di depan, ada sebuah mobil dan tiga motor dengan
kondisi parah setelah terjadi kecelakaan. Kami segera menepi untuk sekadar
melihat apa yang telah terjadi, ternyata peristiwa itu terjadi ketika hujan
lebat tadi turun, mobil yang melaju kencang menabrak motor yang berada di
depanya karena pada saat itu keadaan
jarak pandang sangat kurang karena hujan lebat. Akhirnya saya menyadari bahwa
perasaan yang tersirat dalam pikiran saya ternyata mendapat jawaban setelah
melihat apa yang telah terjadi dengan kecelakaan mobil. Allah mengingatkan saya
dan teman-teman dengan menurunkan hujan yang tiba-tiba agar kami tidak
melanjukan perjalanan, karena kami semua tidak membawa peralatan jas hujan
dalam bagasi motor. Dalam benak saya mendengarkan kumandang adzan namun tetap
melanjutkan perjalanan dan memilih untuk solat zuhur setelah sampainya di
tempat kawah putih. Itu menjadi peringatan kepada kami, agar selalu mempriotaskan
solat diawal waktu karena jika kami pada saat itu membawa jas hujan dan tetap melanjutkan perjalan,
kami tidak akan tahu dengan apa yang terjadi kepada saya dan teman-teman. Allah
masih menyayangi saya dan teman-teman dengan untuk mendatangkan hujan agar kami
tidak melanjutkan perjalan. Dan belajar dari pengalaman tersebut kami selalu
mengingat Allah selama dalam perjalanan, dengan membaca istigfar dan segera
solat diawal waktu.
Setelah
melihat dan merenungi kejadian tersebut, kami tetap melanjutkan perjalanan ke
Kawah Putih, sampai akhirnya pada sore hari kami pulang untuk kembali pulang ke
tempat penginapan.
Keesokan
harinya yaitu hari terakhir kami berada di bandung, kami menyiapakan kembali
keperluan kami untuk pulang ke Jakarta. Kami berangkat pukul 8 pagi untuk
menghindari macet di kawasan Bandung.
Kami sampai ke Jakarta pada pukul 4 sore. Saya sangat senang setelah
belibur 3 hari di bandung dan mendapatkan pelajaran yang sangat berharga untuk
tetap terus ingat kepada Allah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar