kadang kita tidak di takdirkan bersama tapi tuhan selalu punya rencana, lewat kedua orang tua kita yang tidak sengaja saling menyapa lalu berteman lama.
"Heh! Lo mau mati? Lo tau gak? Lo udah nyusain gue, udah bikin gue di hukum bokap, terus mau bikin gue di penjara karena gue nabrak lo ha? Minggir gak?"
"Sorry, lo ngomong apa tadi gue gak denger?"
"Lo bilang gak denger? Lo budek ha?"
"Suara lo kecil banget"
Sialan, nih cewek bikin gue naik darah umpat baim dalam hati "Lo ngapain sih disini"
"Anter gue pulang""Naik taksi sana"
"Lo mau diomelin bokap lo karena ngebiarin gue jalan sendirian"
"Bodo amat"
"Lo gak takut gue di culik terus lo yang jadi tersangka?"
"Siapa yang mau nyulik cewek manja, bawel, dan gak tau diri kayak lo"
"HEH" sambil memukul kasar kepala Baim
"Apaansih"
"Songgong, anter gue pulang sekarang!" farah berjalan menuju mobil Baim
"Lo tau sekarang kita dimana? Di tempat gue trek-trekan, dan hari ini gue ada pertandingan penting, jadi lo pulang sendiri aja"
"Gak mau, kalo gitu gue tunggu lo sampe selesai, kalo perlu gue ikut di mobil ini"
"Lo keras kepala banget ya?"
"Emang"
"Pake sabuk pengamanya, jangan keluar kalo gak gue suruh, bentar lagi gue tanding setelah menang kita pulang""Menang? Yakin banget""Lo gatau gue pangeran jalanan?"
"Pengamen maksud lo?"
"Njir, mulut lo ya"
"YA"
"Itu temen-temen lo?"
"Menurut lo? Gue turun, inget jangan keluar atau lo bakalan abis, gue janji kita menang, langsung pulang"
"Ok"
Setelah berbicara dengan teman-temanya dia langsung masuk mobil lagi
"Sudah siap bertanding tuan putri?"
"Siap pangeraran"
"Jangan takut ya?" Dia melirik sinis kearah Baim lalu mulai menarik seatbeltnya
"Pegangan gue aja kalo takut"
"Ngarep"
Suara menderu-deru dari mesin mobil mulai saling saut menyaut menandakan pertandingan akan segera di mulai
"Are you ready"
"Hmm"
"Lo kenapa?"
"Takut"
"Hahahaha manja sih, lagian udah di bilangin gausah ikutan nyolot sih"
"Ini aman kan?"
"Iya aman"
Ready?
Go!!
Manuver-manuver cepat dari mobil menikung tajam di belokan, membelah jalanan jakarta malam yang lenggang, ini arena balapan liar, walaupun dia terlahir di kalangan keluarga kaya yang bisa balapan di sirkuit sesuka hati dia, kapanpun jam berapapun tapi balapan liar memang selalu menyuguhkan sesuatu yang berbeda.
"Gue takut"
"Kan udah gue bilang jangan ikutan"
"Gue penasaran"
mobil Baim mulai menikung tajam dan tanpa sengaja dia menarik erat lengan kiri kaos Baim dengan kencang Baim hanya tersenyum simpul,
"Awaaaaaaas" menaruh tangan di leher Farah untuk membiarkanya tetap duduk di jok.
"Jantung gue utuh"
"Hahaha bodoh" sambil menjitak pelan kepalanya Farah
"lo kenapa suka trek-trekan sih gak takut mati?"
"Mati? Semua orang juga pasti mati kali"
"Lo gak takut?"
"Biasa aja"
"Lo belum pernah koma berhari-hari ya?"
"Belum, gamau ngerasain juga"
"terus kenapa lo balapan, bego ya"
"Haha udah jangan di lanjutin gue mau konsen nyetir"
Akhirnya balapan hampir selesai, tapi Baim tidak berhenti di garis finish dia tetap melaju menembus kerumunan teman-teman yang siap menyambut kemananganya
. "kita langsung pulang"
"lo gamau nemuin temen-temen lo dulu"
"gampang itu urusan besok"
"lo bisa gak nyetirnya selow, inikan bukan tempat balapan lagi, lagian nanti di tilang polisi tau rasa"
"iya iya" Baim memelankan laju mobilnya
mereka mulai menelusuri daerah tempat tinggal mereka, Baim menengok ke kursi sebelah, lalu mendapati Farah sudah tertidur
"lo kalo lagi gak cerewet tuh cantik bego, sayang sih lu manja, cerewet, gue jadi males deket-deket, coba lo lebih kalem dan gak kayak anak kecil"
baim geleng-geleng kepala mendengar ucapanaya sendiri, terus Naina pacarnya dia mau dia kemanain kalau sampai dia jatuh cinta pada teman kecilnya yang sekaligus anak sahabat baik Papanya, mereka memang tidak pernah di jodohkan, Papa juga hanya berpesan untuk menjaga Farah selama mereka sekolah bersama, karna pekerjaan Papa Farah yang selalu berpindah-pindah akhirnya orang tua Farah menitipkan Farah ke keluarga Baim.
"far, far bangun udah sampe rumah lo nih"
"hmm"
"Faraaaaaah"
"astaga suara lo cempreng banget sih im"
"yang penting lo banggun"
posisi baim yang sedang menatapnya dengan badan di condongkan malah membuat Farah terpaku, mungkinkah?
"woy, turun sana!"
"gak mampir"
"udah malem"
"yaudah makasih ya, hati-hati"
"ya"
setalah keluar blok C Baim mulai menelusiri jalanan rumahnya sendiri,
"ko gue bisa sampe lupa nanya gimana dia bisa ada di tempat trek-trekan gue sih, bego amat, yaudahlah peduli amat sama dia"
dendy cerpen
Tidak ada komentar:
Posting Komentar